Akhirnya di Kedokteran dan Ceritanya
Halo, saya mau cerita terkait perjuangan saya sampai akhirnya saya kuliah di Pendidikan Dokter itu tidak ada yang spesial. Biasa saja.
Namun, memang cukup panjang sekali lika-liku yang tidak saya tulis di sini. Karena saya sudah menetapkan apa yang ingin saya capai itu waktu saya SMP. Namun, seiring waktu, terdapat perubahan yang sangat signifikan, haha. Tentu saja perubahan yang sangat signifikan ini karena adanya perubahan pemikiran dari “regulasi” keluarga saya dan saya pribadi.
Saat saya memilih untuk bersekolah di SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh yang dalam artian itu boarding school, karena saya sangat ingin merantau makanya sekolah boarding agar terbiasa untuk merantau nanti.
Saya malas cerita panjang lebar jadi saya list saja agar singkat.
1.Saya berhenti mengikuti seleksi Ancora Khazanah sudah lulus sampai seleksi tulis, dan berhenti disitu. Saat itu saya ambil IIUM karena setelah saya diskusi dengan orang tua ternyata orang tua menginginkan saya kuliah S1 di Banda Aceh saja. And i'm okay.
2.Saya tidak ambil universitas swasta yang memberikan beasiswa karena universitasnya di luar Aceh.
3. Dll
Alasan Tak Boleh Rantau
Saya dan adik saya sekolah asrama, SMP adik saya di pesantren, saya SMA yang berasrama. Sedikit sekali waktu muda yang dihabiskan dengan keluarga, jadi saya dan keluarga juga berharap agar lebih banyak waktu bersama. Dan alhamdulillah ya Allah, saya sama sekali tidak menyesal karena tidak merantau. Saya bersyukur sekali. Orang tua percaya sekali sama saya, tapi orang tua tidak sepenuhnya percaya pada lingkungan yang ada di sekitar saya jika saya merantau.
"Tidak ada yang bisa memrediksi manusia secara keseluruhan"
Saya setuju, dan alhamdulillah saya sangat bahagia.
SNMPTN
Saya pilih pilihan
1.Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh di Aceh Utara.
2.Fakultas MIPA Informatika Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh.
Saya kira karena Universitas Malikussaleh masih di Aceh itu saya lulus. Sayakepedean ceritanya, ternyata saya tidak lulus. Karena kalau saya ambil kedokteran di Universitas Syiah Kuala, temen-temen saya udah 20 orang mengambil haha. Sangat ga mungkin SNMPTN saya bisa ambil lagi.
Keajaiban doa ibu, saya lulus di pilihan kedua. Yang mana jarang sekali ada yang lulus di pilihan kedua. Peluangnya kecil.
Baju himpunan Informatika.
Dilematis banget, karena dunia "coding" hal yang ga pernah saya sentuh.
Jika saya tidak mengambil undangan karena ambisi saya di Kedokteran, itu bisa fatal akibatnya terhadap sekolah dan terhadap diri saya sendiri. Walaupun pada tahun saya 2018 itu masih bisa ikut SBMPTN tapi ya mungkin yang Informatika yang terbaik dan ternyata memang ini yang terbaik karena saya ambil jurusan Informatika tahun 2018 saya bisa ikut banyak sekali kegiatan luar kampus, bisa bertemu dengan orang-orang yang berharga di hidup saya, dan banyak lainnya. Walau, akhirnya saya juga tidak kuliah di Informatika lagi.
Awalnya saya sudah tetap di Informatika, makanya saya daftar satu beasiswa dan alhamdulillah lolos. Kuliah sudah free dibiayain SPP kuliah ,dapat uang setiap bulan, dapat tempat tinggal, pelatihan keterampilan, pokoknya lengkap tidak perlu mikir lagi.
Singkat cerita, tanda tangan kontrak H-3 pengumuman SBMPTN, saya udah tanda tangan tapiii akhirnya saya mengundurkan diri dari beasiswa tersebut setelah beberapa drama dan juga banyak hal yang harus diselesaikan. Syukurlah saya tidak perlu membayar denda.
SBMPTN
Saya ikut UTBK 1 kali di gelombang 1, dan jadwal terakhir hari minggu. Persiapan seadanya dan tanpa bimbel. Jika ingin tau skor saya, seingat saya berkisar 700-an.
Namun, caranya sudah pernah saya tulis di sini.
Pilihan saat SBMPTN
- Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
- Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala
Awalnya saya ingin meletakkan Fakultas Kedokteran Gigi di pilihan pertama, karena nilai saya pas-pasan menurut saya. Namun, karena saya tanya orang tua saya, mereka berkata Kedokteran saja.. Toh nothing to lose
Kalau saya lulus di Kedokteran Alhamdulillah, kalau tidak lulus ya sudah saya tinggal lanjutkan perkuliahan saya.
Kalau ada adik-adik SMA yang membaca. Sebenarnya ini juga strategi yang bisa dilakukan sih. Lebih lanjut boleh kita diskusikan.
Beberapa kali mendaftar beasiswa, tapi belum rezeki. Sampai akhirnya, Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya mendapat kabar kalau saya lolos beasiswa.
Nama saya Rani Salsabila Efendi, saya sampai memastikan ke pihak penyelenggara karena takutnya ada Rani Salsabila yang lain haha. Dari ribuan peserta alhamdulillah dari Universitas Syiah Kuala lolos 2 orang. Saya dan satu orang lainnya yang beda fakultas.
Sekarang saya kuliah di Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala, sedang menuju semester 4. Saya juga nggak menyangka saya bisa bertahan sampai semester 4, karena memang kalau dibilang kuliahnya berat ya berat, tapi saya berusaha untuk menjalaninya dengan santai karena bisa mendapat kesempatan di pendidikan tinggi itu adalah suatu anugerah dan privilese.
Semester depan saya sudah mulai kuliah tatap muka. Untuk kegiatan praktiknya.
Semoga saya bisa survive dan menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Sangkalan: Ceritanya saya persingkat, biar tidak bertele-tele. Intinya demikian, saya lulus SNMPTN 2018, dan berkuliah. Karena masih ingin mengejar jurusan yang saya tuju saya ikut SBMPTN untuk pertama dan terakhir di tahun 2019. Jadi tidak ada yang spesial dan dirugikan, saya juga tidak merasa terlambat satu tahun, karena ya mayoritas banyak yang seperti saya. Mengejar fakultas kedokteran, ada yang gap year, ada yang udah kuliah, ada yang bahkan udah semester 4,6 tapi meninggalkan karena lulus di kedokteran. Ini balik lagi ke perihal cita-cita sih. Sah-sah saja menurut saya. Kampus saya juga bukan TOP 3 di Indonesia, mungkin skor 700-an untuk kedokteran. Namun, saya kurang tau untuk kampus lainnya. Bisa sama, lebih tinggi atau lebih rendah.
Sekian, terima kasih sudah membaca. Maaf jika ada yang tidak berkenan dari penyampaian saya ya dan bisa kita diskusikan. 🤍🤍🤍


